PEMBENTUKAN KERANGKA KARBON DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI
Pembentukan
Kerangka Karbon Dan Transformasi Gugus Fungsi
A. Proses
Pembentukan Kerangka Karbon
Dibawah ini merupakan Proses dalam pembentukan
kerangka, dimana meliputi :
1.
Reaksi Pembentukan Asetal
Senyawa
asetal dapat dihasilkan dengan melakukan reaksi adisi nukleofilik alkohol
terhadap gugus karbonil yang berasal dari aldehid ataupun yang berasal dari
keton. Maka dapat dinyatakan persamaan reaksinya seperti berikut ini:
2.
Reaksi Pembentukan Sianohidrin
Senyawa
sianohidrin dapat dihasilkan dengan melakukan proses reaksi adisi nukleofilik
ion sianida terhadap gugus karbonil yang dapat berasal dari aldehid ataupun keton.
Maka dapat dinyatakan persamaan reaksinya seperti berikut ini:
Gugus
nitril yang masuk akan menambah satu atom karbon kedalam kerangka karbon dari
aldehid atau keton semula. Sehingga hidrolisis yang dilakukan terhadap gugus
nitril dapat diperoleh asam karboksilat.
3.
Reaksi Pembentukan Imina dan Enamina
Pemerolehan
Senyawa imina dapat dilakukan menggunakan reaksi adisi-eliminasi suatu aldehid
atau keton dengan amina primer. Sedangkan enamina enamina dapat diperoleh dari
hasil reaksi antara adisi-eliminasi amina sekunder dan aldehid atau keton. Reaksinya
dapat dicontohkan seperti berikut:
Kerangka
karbon yang ada pada imina maupun enamina memiliki ukuran yang lebih besar
dibandingkan dengan senyawa aldehid atau keton asalnya.
4.
Reaksi Wittig
Dalam
pembentukan Ikatan Rangkap Dua (Alkena), pembuatan senyawa alkena dapat
diperoleh dengan melakukan suatu reaksi adisi nukleofilik dengan pereaksi
fosfonium ilida terhadap gugus karbonil yang ada pada aldehid dan juga keton. Untuk
persamaan reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut:
5.
Senyawa Organologam
Senyawa
organologam meliputi :
1. Senyawa
Organolitium
Senyawa organolitium dapat diperoleh
melalui cara yang dijelaskan oleh gambar dibawah ini:
2.
Senyawa Organomagnesium (Reagen
Grignard)
Reagen Grignard
(organomagnesium) dapat diperoleh melalui cara seperti yag dijelaskan gambar
dibawah ini:
Organolitium akan lebih
reaktif daripada reagen Grignard. Reaksi yang terjadi mirip dengan reagen
Grignard, namun kadang-kadang lebih efisien. Adisi yang terjadi pada gugus
karbonil didalam C=C-C=O oleh RLi lebih mudah karena ukuranya lebih kecil.
3.
Senyawa Organotembaga
Reagen organotembaga
dapat dibentuk menggunakan cara dibawah ini:
2RLi
+ Cu2X2 ®
2RCu + 2LiX
4RLi
+ Cu2I2 ®
2R2CuLi + 2LiI
Senyawa organotembaga
memiliki sifat yang selektif. Sedangkan senyawa RCu atau Alkil Tembaga
mempunyai sifat sedikit larut dalam pelarut organic. Sementara itu senyawa
R2CuLi (Litium dialkil kuprat) sangat larut dalam eter, dapat segera digunakan
4.
Senyawa Organokadmium
Reagen organokadmium
dapat diperoleh dengan cara dibawah ini:
2RMgX
+ CdCl2 ®
R2Cd
Dikarenakan logam Cd diatas
kurang elektropositif maka tidak sereaktif reagen Grignard. Selektif terhadap
elektrofil, terutama mengubah RCOCl menjadi RCOR’ (keton)
6. Reaksi
Adisi 1,4 (Reaksi Adisi Michael)
Reaksi
adisi nukleofil yang terjadi pada senyawa karbonil tak jenuh-a,b
oleh nukleofil yang tergolng basa lemah contohnya adalah CN- , R2NH.
7. Reaksi
Kondensasi Aldol
Reaksi
kondensasi merupakan reaksi yang terjadi pada dua molekul atau lebih bergabung
menjadi satu molekul yg lebih besar, dengan satu atau tanpa hilangnya suatu
molekul yang kecil seperti air. Bila aldehida diolah menggunakan basa seperti NaOH dalam air, ion enolat yg
terjadi dpt bereaksi pd gugus karbonil dari molekul aldehida yg lain. Hasilnya
adalah adisi suatu molekul aldehida ke molekul aldehida yg lain yang disebut reaksi
kondensasi aldol (aldehida dan alkohol).
8. Reaksi
Anelasi Robinson
Reaksi
anelasi Robinson adalah rentetan reaksi pembentukan cincin melalui kombinasi
antara reaksi adisi Michael (Adisi 1,4) dengan reaksi kondensasi aldol.
9. Reaksi
Kondensasi Knovenagel
Reaksi
antara sebuah aldehida dan suatu senyawa yang mempunyai H-α terhadap 2 gugus
pengaktif (seperti C=O atau C≡N) dengan menggunakan amonia atau suatu amina
sebagai katalis.
10. Reaksi
Kondensasi Claisen (Kondensasi Ester)
Ester
dgn H-α dpt bereaksi kondensasi diri menghasilkan ester β-keto. Dalam reaksi
kondensasi Claisen (-OR pada ester merupakan gugus pergi. Hasil reaksi
merupakan produk substitusi BUKAN eliminasi seperti kondensasi aldol)
Transformasi Gugus Fungsi
Transformasi
gugus fungsi adalah perubahan suatu bentuk gugus fungsi awal ke bentuk gugus fungsi
yang lainnya dimana memungkinkan terjadinya pemutusan ikatan rantai yang
bertujuan agar gugus fungsi itu dapat sesuai dengan molekul target.
1.
Transformasi gugus amina
Pada reaksi ini
digunakan etanolamin dan diethanolamine, yang mana nantinya akan membentuk
suatu amida dan juga melepaskan air reaksi amidasi antara alkil klorida. Apabila
Amina direaksikan dengan Ester akan lebih cepat bereaksi pada suhu tinggi dan
sangat lambat jika dilakukan pada suhu rendah. Namun jika digunakan katalis
basa Lewis NaOMe dimana lebih kuat dari triethylamine maka reaksi amidasi
antara Amina dan Ester dapat terjadi pada suhu rendah.
2.
Transformasi gugus hidroksil
Contoh senyawa yang
mengandung ikatan rangkap yang terkonjugasi (posisi C yang mengandung gugus
fungsi bersebelahan) dengan gugus karbonil atau disebut sebagai a,b-karbonil
tak jenuh. Ikatan rangkap dua yang ada pada senyawa tersebut nantinya bereaksi
dengan nukleofil (C yang bermuatan relatif positif) dan mengalami reaksi adisi
dengan nukleofil. Senyawa itu akan
bertransformasi menjadi suatu nukleofil kuat yang akan bereaksi dengan
elektrofil seperti pada senyawa alkil halida.
3.
Transformasi gugus aldehid
Contohnya adalah sitronelal
yang memiliki dua gugus fungsi yaitu gugus aldehida dan gugus alkena.
Transformasi sitronelal menjadi turunannya ditentukan oleh kereaktifan kedua
gugus fungsi tersebut. Permasalahan muncul jika transformasi menyangkut gugus
alkena dengan tidak lepas dari gugus aldehidanya. Asetal dibentuk oleh reaksi
antara gugus karbonil dengan alkohol pada kondisi anhidrat dengan adanya
katalis asam. Katalis asam yang umum digunakan adalah gas asam klorida, gas
asam sulfat, BF3.OEt2 atau p-toluena sulfonat. Ketal atau asetal stabil pada pH
4-12.
4.
Transformasi asam karboksilat dan
turunannya
Asam karboksilat dapat
diubah kedalam bentuk ester dengan menggunakan alkohol dalam suasana asam. Namun
ada pengecualian untuk ester metilik dapat pula dibuat dengan menggunakan asam karboksilat
dan diazometan. Untuk ester yang lebih komplek dapat diperoleh dari reaksi
alkohol dengan asil klorida atau dengan anhidrida asam. Untuk lebih jelasnya
berikut transformasi asam karboksilat dan turuna-turunannya:
















baiklah, perkenalkan saya Putri Mayang Sari NIM A1C119056 akan menjawab pertanyaan no.1 Asetal dan enamina dibentuk karena untuk melindungi gugus aldehida. Jadi, perlindungan ini dilakukan agar suasana asam sitronelal memilik kecenderungan untuk mengalami reaksi intramolecular menjadi isomer isopulegol. Jadi, pada kondisi ini asetal tidak bisa dibentuk jika tidak menggunakan katalis asam.
BalasHapusbaiklah saya mitha udhiyah dengan nim A1C119006 izin menjawab pertanyaan nommor 2. Selain dibuat dari asam karboksilat, ester juga dapat diperoleh dengan cara
BalasHapusmereaksikan suatu klorida asam atau suatu anhidrida asam dengan alkohol
atau fenol. Ester dibuat dengan mereaksikan alkohol atau fenol dengan asam
karboksilat kemudian direfluks. Fenol yaitu senyawa organik dimana gugus -OH langsung terikat pada cincin benzena. Reaksi pembuatan ester disebut
esterifikasi dan reaksi yang terjadi disebut reaksi esterifikasi Fischer
Baiklah saya Lenny Friskha Tamba dengan NIM A1C119035 akan menjawab pertanyaan no.3
BalasHapusKarena Adisi adalah bila ada H+ amina bebas menjadi kecil reaksi akan lambat sehingga menjadi penentu laju. Nah sedangkan untuk eliminasi, laju meningkat dengan bertambahnya asam, OH¯basa kuat, gugus pergi yang jelek, -OH2+ dapat pergi sebagai
H2O basa lemah dan gugus pergi yang baik. Sehingga enamina bisa diperoleh dari hasil Adisi-eliminasi dan aldehid ini.